Bicara tentang local wisdom, saya dan masyarakat Bojonegoro lainnya yakin bahwa lokalitas kota kami tak akan lebih mentereng dari kota metropolitan yang bisa diambil daya tariknya dari sudut manapun. Masyarakat masa kini jarang yang akan berbangga diri dengan kearifan lokal daerahnya. Lha wong mereka lebih cinta dengan sesuatu yang berlabel interlokal atau kalau perlu internasional, pokoknya sesuatu yang tidak berasal dari daerahnya sendiri yang mereka judge ndeso. Dari pemikiran ini saya cukup penasaran, mengapa sang sutradara, Harris Nizam, begitu berani mengambil tantangan untuk menggarap film yang pastinya akan memaparkan kearifan lokal Bojonegoro ini. Pasti ada sesuatu entah dari segi mana yang beliau yakini bisa mendongkrak film garapannya.
Daripada penasaran, langsung saja saya tengok official trailer dari film ini di youtube. Seperti judulnya yang berbau kepramukaan, sangat jelas kalau film ini juga mengangkat tema pramuka. Diawali dengan scene latihan dasar kepramukaan siswa-siswi SD dan rencana mengikuti jambore. Persahabatan dan persaingan khas anak kecil juga menonjol di trailer ini. Yang bikin menarik tentu saja polemik mengenai hasduk si Budi, pemeran utama dalam film ini. Karena digambarkan hidup dari keluarga miskin ia tak mampu membeli hasduk. Kalau ia tak punya hasduk, dia tidak akan bisa mengikuti jambore. Problema ini membuat Budi banting tulang, bekerja mencari uang dengan dibantu kawan-kawannya hanya untuk membeli hasduk.
Sampai kemudian, saya tak hanya mengobati rasa penasaran saya lewat trailer. Saat itu, 2 Maret 2013, diadakan nonton bareng premier Hasduk Berpola di gedung Angling Darma Bojonegoro. Hampir saja saya melewatkan kesempatan ini, tapi akhirnya saya datang juga. Dengan menonton secara langsung dan bukan hanya lewat trailer, saya merasa mendapat banyak kejutan. Banyak hal-hal yang tidak saya duga sebelumnya dibuktikan secara gamblang. Sang sutradara telah berhasil menemukan formula untuk mendongkrak filmnya.
Film ini ternyata punya banyak fokus, bukan semata-mata tentang hasduk nyeleneh yang berpola. Film ini ternyata sederhana tapi mengandung nilai persahabatan dan kekeluargaan yang kuat. Tentang lawan yang menjadi sahabat, tentang adik yang mengorbankan sesuatu yang berharga miliknya untuk sang kakak, tentang cucu yang meneruskan perjuangan kakeknya untuk menyampaikan janji kebangsaan yang tertunda. Film ini ternyata bukan semata-mata menonjolkan kepramukaan tapi juga tentang perjuangan dari sisi pejuang yang telah lalu juga pejuang jaman sekarang. Film ini ternyata bukan film anak-anak biasa, tapi film yang bukan hanya mengajari anak-anak tapi juga orang dewasa tentang apa itu nasionalisme dan patriotisme. Dan yang paling penting, film ini ternyata berhasil membumbungkan kearifan lokal dari kota kecil yang masyarakatnya sendiri saja tak yakin dengan lokalitasnya.
Saya bangga Bendungan Gerak, Khayangan Api, Waduk Pacal, dan objek lainnya bisa terpapar indah di film ini. Setelah ini saya yakin masyarakat Bojonegoro akan bangga dengan kotanya dan bangga nguri-uri kearifan lokalnya. Saya juga bangga, generasi muda Bojonegoro, seperti Bangkit Prasetyo (Pemeran tokoh Budi) dan kawan-kawannya berhasil memainkan perannya secara apik dan layak dijadikan teladan. Terlebih saya bangga pada Harris Nizam, karena meski ia bukan putra daerah tapi ia mau dan mampu membuat film sehebat ini yang dipersembahkan untuk Bojonegoro dan Indonesia tercinta. Bahkan ia pernah berkata "Saya memang bukan putra daerah Bojonegoro, tapi sekarang saya bangga menjadi keluarga besar Bojonegoro." Siapapun kita, terutama putra dan putri Bojonegoro pasti tersentak hatinya setelah mendengarnya, berharap selanjutnya kita yang akan menciptakan karya untuk Bojonegoro.
Yang pasti film ini sederhana, tidak muluk-muluk, tapi berhasil melumpuhkan rasa penasaran saya. Kini ekspektasi saya mengenai film ini tidak lagi datar, dengan bangga saya akan bilang film ini "Matoh".
