Rabu, 13 Maret 2013

HASDUK BERPOLA: Membangun Ekspektasi "Matoh"


Jangan katakan kalau ekspektasi saya mengenai film ini langsung "Wow", penilaian saya pada mulanya datar-datar saja. Ekspektasi saya pertama kali muncul ketika mendengar judul filmnya yang terdengar nyeleneh: 'Hasduk Barpola'. Bukankah hasduk itu selayaknya berwarna merah dan putih, polos tanpa corak apapun? Bagi saya ini aneh. Kemudian bermunculanlah ekspektasi berikutnya seiring dengan datangnya kabar dari sana-sini. Banyak yang bilang kalau film ini akan melalui proses shooting dengan latar Bojonegoro dan bahkan pemain-pemainnya pun juga berasal dari kota Ledre ini. Kok bisa Bojonegoro? Kenapa tidak kota lain? Apa yang bisa dieksplor dari kota kecil yang tak punya banyak daya tarik ini? Usut punya usut ternyata si penulis naskah adalah orang Bojonegoro, beliau juga alumni dari SMA tempat saya sekolah sekarang, mungkin beliau ingin mengangkat local wisdom (kearifan lokal) kampung halamannya.

Bicara tentang local wisdom, saya dan masyarakat Bojonegoro lainnya yakin bahwa lokalitas kota kami tak akan lebih mentereng dari kota metropolitan yang bisa diambil daya tariknya dari sudut manapun. Masyarakat masa kini jarang yang akan berbangga diri dengan kearifan lokal daerahnya. Lha wong mereka lebih cinta dengan sesuatu yang berlabel interlokal atau kalau perlu internasional, pokoknya sesuatu yang tidak berasal dari daerahnya sendiri yang mereka judge ndeso. Dari pemikiran ini saya cukup penasaran, mengapa sang sutradara, Harris Nizam, begitu berani mengambil tantangan untuk menggarap film yang pastinya akan memaparkan kearifan lokal Bojonegoro ini. Pasti ada sesuatu entah dari segi mana yang beliau yakini bisa mendongkrak film garapannya.

Daripada penasaran, langsung saja saya tengok official trailer dari film ini di youtube. Seperti judulnya yang berbau kepramukaan, sangat jelas kalau film ini juga mengangkat tema pramuka. Diawali dengan scene latihan dasar kepramukaan siswa-siswi SD dan rencana mengikuti jambore. Persahabatan dan persaingan khas anak kecil juga menonjol di trailer ini. Yang bikin menarik tentu saja polemik mengenai hasduk si Budi, pemeran utama dalam film ini. Karena digambarkan hidup dari keluarga miskin ia tak mampu membeli hasduk. Kalau ia tak punya hasduk, dia tidak akan bisa mengikuti jambore. Problema ini membuat Budi banting tulang, bekerja mencari uang dengan dibantu kawan-kawannya hanya untuk membeli hasduk.

Sampai kemudian, saya tak hanya mengobati rasa penasaran saya lewat trailer. Saat itu, 2 Maret 2013, diadakan nonton bareng premier Hasduk Berpola di gedung Angling Darma Bojonegoro. Hampir saja saya melewatkan kesempatan ini, tapi akhirnya saya datang juga. Dengan menonton secara langsung dan bukan hanya lewat trailer, saya merasa mendapat banyak kejutan. Banyak hal-hal yang tidak saya duga sebelumnya dibuktikan secara gamblang. Sang sutradara telah berhasil menemukan formula untuk mendongkrak filmnya.

Film ini ternyata punya banyak fokus, bukan semata-mata tentang hasduk nyeleneh yang berpola. Film ini ternyata sederhana tapi mengandung nilai persahabatan dan kekeluargaan yang kuat. Tentang lawan yang menjadi sahabat, tentang adik yang mengorbankan sesuatu yang berharga miliknya untuk sang kakak, tentang cucu yang meneruskan perjuangan kakeknya untuk menyampaikan janji kebangsaan yang tertunda. Film ini ternyata bukan semata-mata menonjolkan kepramukaan tapi juga tentang perjuangan dari sisi pejuang yang telah lalu juga pejuang jaman sekarang. Film ini ternyata bukan film anak-anak biasa, tapi film yang bukan hanya mengajari anak-anak tapi juga orang dewasa tentang apa itu nasionalisme dan patriotisme. Dan yang paling penting, film ini ternyata berhasil membumbungkan kearifan lokal dari kota kecil yang masyarakatnya sendiri saja tak yakin dengan lokalitasnya.

Saya bangga Bendungan Gerak, Khayangan Api, Waduk Pacal, dan objek lainnya bisa terpapar indah di film ini. Setelah ini saya yakin masyarakat Bojonegoro akan bangga dengan kotanya dan bangga nguri-uri kearifan lokalnya. Saya juga bangga, generasi muda Bojonegoro, seperti Bangkit Prasetyo (Pemeran tokoh Budi) dan kawan-kawannya berhasil memainkan perannya secara apik dan layak dijadikan teladan. Terlebih saya bangga pada Harris Nizam, karena meski ia bukan putra daerah tapi ia mau dan mampu membuat film sehebat ini yang dipersembahkan untuk Bojonegoro dan Indonesia tercinta. Bahkan ia pernah berkata "Saya memang bukan putra daerah Bojonegoro, tapi sekarang saya bangga menjadi keluarga besar Bojonegoro." Siapapun kita, terutama putra dan putri Bojonegoro pasti tersentak hatinya setelah mendengarnya, berharap selanjutnya kita yang akan menciptakan karya untuk Bojonegoro.

Yang pasti film ini sederhana, tidak muluk-muluk, tapi berhasil melumpuhkan rasa penasaran saya. Kini ekspektasi saya mengenai film ini tidak lagi datar, dengan bangga saya akan bilang film ini "Matoh".

Jumat, 08 Februari 2013

Dongeng Tentang Perempuan Naif

Pada suatu hari
Seorang perempuan naif memilih seorang laki-laki bajingan sebagai kekasihnya
Ia memilih dengan kesadarannya
Bukan karena efek dari apel beracun sang penyihir jahat
Yang mematikan akal sehatnya

Si perempuan naif ini bak menantang bermain russian roulette
Selalu berjaga-jaga dan waspada
Atau bak terkutuk menjadi putri duyung
Ia harus melawan arus untuk bisa mengepak-ngepakkan ekor bersiripnya

Beginilah si perempuan naif itu membawa suatu perubahan dalam hidupnya yang stagnan
Tanpa bantuan siapapun, bukan juga bantuan dari ibu peri dengan tongkat bintangnya
Pilihannya mengharuskannya beranjak dan bukannya diam di tempat

Ia tidak mau bernasib sama seperti putri tidur
Yang hanya bisa menunggu seorang pangeran dari antah-berantah menciumnya
Untuk membangunkan dari tidur panjangnya selama ratusan tahun

Perempuan naif ini hanya ingin berproses
Terkadang proses memang menjadikan kita seseorang yang bukan kita
Untuk mengembalikan kita menjadi seseorang yang benar-benar kita

Perkara ia akan tetap menjadi naif atau tidak
Itu hanya sebatas intrik yang akan kita temukan di tengah kisah
Tak selamanya kisah dongeng bergulir dengan karakter putri berhati seputih salju

Meski ia naif, tapi ia tidak bebal
Ia tidak merasa sedang membodohi dirinya sendiri atau membodohi orang lain
Baginya tidak ada yang salah dari seorang laki-laki bajingan
Pangerannya tak harus ksatria gagah berkuda putih

Lalu...
Bahagiakah ia bersama laki-laki bajingan pilihannya?

Belum ada kepastian
Ia masih akan melebur
Menemukan klimaks
Memastikan ending atas kisah dongengnya sendiri

Total Tayangan Laman