Ternyata Laki-Laki yang Kubutuhkan Hanyalah Bapak


JOMBLO, sebuah status yang kadang bikin kesel. Yang entah kenapa seakan-akan semua orang yang mengetahui kita baru menyandang status itu langsung menganggap kita ngenes. sebulan dua bulan mereka akan maklum dan mem-puk-puk kita yang baru putus. Lebih dari itu mereka akan bilang kalau kita galaku atau men-judge kita manusia goa yang ga mau membuka diri untuk dunia luar. “Move on Gath, cari pacar sana!” Sentilan-sentilan itu sudah biasa saya dengar dan saya balas dengan senyum lebar, atau saya bilang lagi fokus ke passion, atau kalau saya saking putus asanya saya akan ngaku belum move on.

Perihal mudah atau tidaknya move on. Ketakutan saya cuma satu, saya takut dapat pacar yang bajindul lagi. Terkadang saya memang terlalu takut menghadapi kenyataan. Jadi kalaupun saya bilang tidak bisa move on itu karena saya merasa lebih baik balikan sama mantan daripada dapat pacar yang lebih bajindul dari mantan. Haha, saya emang ngawur. Kita musti positive thinking, everything  happens for a reason and we deserve better :)

Dari peristiwa putus ini, saya dapat banyak sekali pelajaran. 1. Ga ada gunanya kita memaksa seseorang untuk bertahan demi kita. Hei, hewan aja gamau dikurung apalagi manusia? Dan cowok yang kadang kelakuannya kayak anyiiing itu, nyatanya ga se sesetia anjing yang namanya Hachiko. Jadi lebih mending pacaran sama anjing nih daripada cowok? Wkwk. 2. Saya jadi tahu siapa sahabat yang benar-benar memahami saya. Setelah saya putus saya sering memakai ‘topeng’. Saya ketawa-ketiwi menertawakan nasib saya. Saya membuat nasib saya ini bahan guyonan diantara teman-teman saya. Supaya saya kelihatan tegar, padahal cuma sok-sok an. Dan akan ada sahabat yang tahu apa yang benar-benar saya rasakan di balik topeng saya dan bilang “Stop Gath, mending kita bahas yang lain, aku kasihan lihatnya kalau kamu kayak gini terus” thanks for caring guys *peluk*. 3.  Saya ga butuh pacar kalau hanya untuk ngasih perhatian. Mas-mas indomart bisa kok ngasih ucapan selamat pagi. Provider sering kok ngasih kata-kata gombal meskipun selalu diakhiri dengan promosi i-ring atau layanan terbarunya. Tapi bukan itu sih yang saya maksud. Saya masih punya laki-laki paling tulus dan setia di dunia ini, yaitu Bapak.

Bapak saya orangnya sangat perhatian. Hebatnya, dia selalu bisa membagi perhatiannya itu rata kepada keluarganya, 1 orang istri dan 3 orang anaknya. Saya tidak pernah merasa kekurangan perhatian sedikitpun dari Bapak saya. Sayangnya saya baru menyadarinya akhir-akhir ini. Saya sering tidak sempat atau mungkin lebih tepatnya tidak menyempatkan diri membalas SMS-nya. Dan disaat-saat itu saya malah lebih sering mengharapkan SMS “Apa kabar?” dari mantan yang sudah lost contact itu. Hahaha ironis, padahal kalau dipikir-pikir dulu perhatian yang diberikan mantan tidak ada apa-apanya dengan perhatian Bapak. Kalau dulu saya tidak membalas SMS nya, dia pasti sudah ngamuk dan bilang perhatian saya mulai memudar. Dan kalau saya tidak membalas SMS Bapak, tiba-tiba Bapak malah mengirimi saya pulsa, karena beliau mengira saya tidak membalas SMS nya karena saya kehabisan pulsa.

Untuk masalah diperjuangkan. Bapak saya jagonya memperjuangkan apapun demi anaknya. Akhir-akhir ini saya baru berpikir rasional kalau buat apa saya mempertahankan laki-laki yang untuk memperjuagkan jarak dan waktunya demi saya saja tak sanggup. Akhirnya ada sedikit rasa syukur saya telah putus. Dan saya bersyukur tidak akan pernah putus hubungan dengan Bapak. Karena tidak akan ada yang namanya mantan Bapak. Tentu saya akan sangat menyesal kalau harus putus dengan orang yang gigih dan rela berkorban seperti Bapak saya. Dari kecil Bapak yang guru SD dan Ibu yang hanya ibu rumah tangga selalu berusaha mencukupi kebutuhan saya, kakak, dan adik. Saya ingat setiap saya dan saudara saya makan dan di meja hanya ada sedikit lauk daging atau ikan, Bapak pasti tidak akan mengambil. Bapak mengalah dan memberikan lauk itu kepada kami. Kadang Bapak bahkan Cuma makan nasi dan kuah sayur. Waktu saya kerepotan mengurus berkas-berkas untuk pengajuan beasiswa, Bapaklah yang juga selalu berjuang kesana-kemari mengurusnya, minta tanda tangan RT, kepala desa dll. Dan dengan egoisnya ketika berkas-berkas itu salah ketik saya langsung ngamuk, lalu Bapak kembali mengurusnya sampai betul-betul tidak ada lagi kesalahan. Terharunya, diakhir Bapak justru yang minta maaf karena kekurang sempurnaan pengerjaan berkas itu. Saya Cuma berharap, Tuhan... semoga di masa depan stok laki-laki sesabar Bapak masih ada, dan simpankanlah untuk jadi suamiku kelak.

Saya butuh laki-laki yang bisa memotivasi sekaligus mengapresiasi saya terutama dalam urusan passion dan cita-cita. Namun seringkali ketika kita memiliki pacar, motivasi dan apresiasi itu cuma omong kosong mereka. Pada akhirnya akan ada yang harus dikorbankan. Cinta atau cita? Tidak bisakah keduanya berjalan bersinergi? Saya tidak hanya sedang membicarakan diri saya, tapi saya juga membicarakan teman-teman saya yang oh.. kasihan sekali nasibnya. Ada yang tidak boleh ikut ekskul, organisasi, atau lomba-lomba dengan alasan pacarnya yang posesif. Guys, akankah passion kamu gadaikan dengan pacar? Berpikir bijaklah. Carilah pacar yang demokratis terhadap prinsip-prinsip hidupmu yang ingin kamu pegang teguh.

Bicara tentang passion tentu lagi-lagi Bapak saya yang punya andil besar dalam proses saya. Ia selalu menanamkan nilai Demokratis, dan tak pernah sekalipun kegiatan-kegiatan yang saya geluti tidak disetujuinya. Tentu saja asalkan positif dan sesuai passion saya. Pernah suatu kali saya main teater waktu SMP, saat  itu adalah saat pertama saya main teater. Saya masih grogi dan amatiran, jadi saya merasa malu kalau ditonton oleh orangtua saya. Saya melarang Bapak dan Ibu untuk menontonnya. Saya kira mereka benar-benar tidak menontonnya, tapi ketika teman kerja Bapak main ke rumah, ia memuji bakat akting saya. Saya langsung tanya, kok anda bisa tahu? Ternyata oh ternyata Bapak saya tetap menonton saya, dan bahkan memperlihatkan foto-foto saya ketika di atas panggung pada teman-temannya. Saya benar-benar dibuat tersanjung dengan apresiasi yang sering bapak lakukan. Semenjak itu saya berprinsip untuk selalu menekankan ini ketika passion saya mulai diusik “Apa hak kamu larang-larang saya? Cuma pacar kan? Orang Bapak saya aja ga pernah larang saya ngelakuin ini itu kok”.

Bahkan untuk hal yang sangat sederhana, Bapak selalu berusaha menyanjung. Bukan, beliau bukan laki-laki buaya darat yang omongannya manis penuh tipu daya. Bapak akan memuji saya jika itu diperlukan untuk memompa kepercayaan diri saya. Ketika saya belajar memasak cah kangkung dan kangkungnya terlalu layu karena kelamaan di kompor, Bapak saya tetap memujinya enak agar saya tidak menyerah untuk belajar memasak. Ketika saya pesimis ikur lomba announcer, karena saingannya kebanyakan orang radio, bapak saya tetap mengirimi saya SMS kata-kata semangat dan bilang, percayalah dengan keunikan suara kamu dan kamu akan dapat mengalahkan mereka. Bapak ingin saya tetap percaya diri. Sampai bahkan ketika saya pernah benar-benar putus asa karena tidak siap ditunjuk menjadi peserta lomba pidato bahasa Jawa dan semua kalimat motivasi tidak ada artinya lagi dikuping saya, Bapak langsung keluar membelikan saya satu setel seragam putih-biru dan sepatu baru agar penampilan saya ketika lomba semakin maksimal dan percaya diri. Sebenarnya bukan barang-barang itu yang membuat saya berubah jadi optimis kembali. Namun kegigihan Bapak, yang saya tahu uang didompetnya waktu itu tidak banyak, dan saat itu sedang hujan deras. Sepatu yang dibeli itu awalnya juga tidak pas dengan ukuran saya, dan Bapak tetap kembali ke tokonya di tengah hujan deras demi menukarkan sepatu yang sesuai dengan ukuran saya.

Bapak selalu mempunyai cara untuk membuat saya kembali optimis. Bapak selalu bilang sesulit apapun, sebuntu apapun pasti akan dibukakan pintu untuk orang yang mengimani Tuhan. Dan saya selalu percaya kekuatan doa seorang Bapak. Semua pencapaian yang saya dapatkan selama ini juga berkat doa-doa Bapak. Ketika saya putus asa dan berkata “Semua laki-laki sama saja, sama-sama bajingan”, saya mencoba berpikir kembali. Saya tidak boleh mengeneralisasikannya semudah itu. Kasih sayang Bapak yang tulus dan tak pernah lekang oleh waktu itu adalah salah satu contoh nyata bahwa masih ada laki-laki yang bukan bajingan. Dan kalaupun itu sangat minim jumlahnya saya akan menyerahkan itu pada Bapak, saya yakin Bapak juga akan mendoakan saya mendapatkan laki-laki yang tepat untuk menjadi pasangan saya kelak. Jadi saya tidak perlu khawatir lagi.

Tentang gelar jomblo, dan apapun itu kata mereka tentang love&relationship saya, saya tak peduli. Life is too precious to waste it with the wrong person. I’m better off alone until the right one comes along. And i’m the daughter of respected man and future wife of another. I don’t let young boys fool me into their temporary lust.

Know your worth girls! 



Kabar Dari Makhluk Abrakadabra

Wahai
Sang Maha
Sang Esa
Perkenalkan makhluk yang kau cipta
Dengan mantra Abrakadabra
Bolehkah aku duduk satu meja denganmu?
Seketika pertanyaanku mengkocok-kocok perutmu
Kau seperti disuguhi komedi paling lucu abad ini
Tanpa menunggumu berhenti terpingkal-pingkal
Kusinggahkan pantat kotor
Pada singgasanaMu yang dilapisi beludru awan
Persetan dengan kelancanganku
Kau yang selalu minta disembah
Dalam sujud dan lipatan tangan
Aku lelah dengan ritual pemujaan
Maka kini aku datang menemuimu
Supaya doa-doa tak hanya jadi bahasa kalbu
Yang tak sampai di telingaMu
Baiklah langsung saja
Pertama-tama
Aku ingin memberi kabar
Bahwa makhluk-makhlukMu
Tak pernah paham kosa kata kemanusiaanNya
Apalagi KeTuhananMu
Beri tahu kami
Ajarilah kami
Amin

Sandur, Intan Yang Terpendam

Potensi lokal bak intan. Harus digali untuk mendapatkannya, harus diasah agar berkilau, menampilkan keindahannya. Betapa beruntung kita, karena seluruh pelosok negeri ini dianugrahi banyak potensi yang menunggu untuk ditemukan dan dikilaukan. Begitupun dengan Bojonegoro, kota di mana saya sekarang tinggal untuk menempuh pendidikan. Saya yakin Bojonegoro tak luput dari keberuntungan yang dimiliki negeri ini.

Jika kita menyebut nama kota kecil ini di kota-kota besar, sering kita mendapati selorohan seperti “Bojonegoro itu letaknya dimana sih? Emangnya di peta ada ya?” Miris mendengarnya. Betapa Bojonegoro menjadi kota yang belum dikenal banyak orang. Bojonegoro memang bukan kota metropolitan dengan gemerlap hiburan, Bojonegoro hanyalah kota yang belum menunjukkan “kilaunya”.

Sebenarnya banyak sekali potensi yang bisa kita temukan dari Bojonegoro. Misalnya, dari segi ekonomi. Bojonegoro memiliki tambang minyak yang sangat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian daerah. Dari segi pariwisata, Bojonegoro memiliki beberapa obyek wisata seperti Bendungan Gerak, Kayangan Api, juga Waduk Pacal, dan lain-lainnya, semua menjadikan Bojonegoro kota yang diminati para wisatawan domestik maupun luar untuk berkunjung. Dari segi budaya? Jangan salah, Bojonegoro punya segudang tradisi, kisah sejarah, maupun kesenian!

Jika kita pernah menengok ke belakang ada sebuah potensi di bidang kesenian yang luput dari pandangan kita. Kesenian apakah itu? Sandur. Mungkin kita asing mendengarnya. Memang Sandur pernah “berkilau” di eranya, namun perlahan meredup, bahkan nyaris musnah. Sandur merupakan perpaduan antara tari dan teater tradisional. Pertunjukan teater dalam Sandur dimainkan oleh empat tokoh pakem yang harus ada, yaitu Cawik, Pethak, Balong, dan Tangsil. Mereka akan memainkan cerita yang berkaitan dengan agraria seperti bercocok tanam, mencari kerja, atau menikah. Biasanya pertunjukan ini diawali dengan tarian Jaranan dan di akhiri dengan atraksi  Kalongking.

Sandur berbeda dengan format pertunjukan lainnya. Inilah yang membuat sandur menjadi unik. Sandur dimainkan di arena yang dibentuk seperti ring tinju dengan rumbai janur kuning atau biasa disebut Blabar Janur Kuning. Para tokoh-tokoh yang bermain teater ditempatkan pada setiap sudut. Sedangkan di bagian tengah blabar diisi Panjak Hore. Mereka adalah sekumpulan penabuh gamelan sederhana dan penyanyi tembang-tembang yang mengiringi pertunjukan Sandur. Logat yang digunakan dalam berdialog pun unik; tidak seperti teater pada umumnya. Logat dalam Sandur memiliki cengkok-cengkok tertentu yang semakin menambah keunikan dan kekhasannya.

Keunikan Sandur tidak hanya itu saja. Pada jaman dulu, Sandur memang sering dipentaskan dalam pesta rakyat atau hajatan. Banyak sekali penikmat Sandur saat itu, mereka akan sangat excited dan berbondong-bondong menontonnnya. Kebanyakan dari mereka menunggu-nunggu penampilan Jaranan dan Kalongking. Sisi magis yang Jaranan dan Kalongking suguhkan dalam  setiap atraksinya konon menjadi daya tarik tersendiri. Untuk menciptakan atraksi-atraksi yang membuat ngeri itu ternyata prosesnya tidak sederhana. Para penari harus melakukan ritual Setren untuk mendapat daya untuk memperlancar atraksinya. Di sinilah unsur mistis yang berasal dari kepercayaan nenek-moyang; peninggalan animisme dan dinamisme. Persiapan Sandur harus menyiapkan sesajen bagi para roh leluhur, selain itu mereka juga harus menginapkan alat-alat dan kostum yang akan dibuatnya pentas selama semalaman di kuburan.

Sayang, semua keunikan dan kekhasan kesenian tradisional itu, tidak bertahan lama dinikmati. Pada masa pemberontakan G 30 S PKI, Sandur dinyatakan sebagai salah satu organ LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat) salah satu ormas PKI. Kebijakan politik pada masa itu memberangus segala sesuatu yang berbau PKI, dan Sandurpun menderita nasib yang sama. Para pegiat Sandur di tangkap dan Sandur dilarang dipentaskan sejak itu. Sandur mati suri sekitar era 65-90an. Sandur hanya tinggal nama bagi para pelakunya. Baru setelah di tahun 90an ada pendokumentasian kesenian daerah, Sandur mulai berkutik kembali.

Para penggiat kesenian daerah mulai sedikit demi sedikit menghapus pandangan buruk tentang Sandur, mereka berniat untuk mengembalikan citra baik Sandur di mata masyarakat. Sandur mulai dipentaskan kembali dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Meskipun itu artinya fungsi Sandur menjadi bergeser, tidak lagi sebagai pertunjukan dalam pesta rakyat atau hajatan. Sandur bahkan mulai diperkenalkan pada para pelajar dengan masuknya Sandur dalam teater-teater sekolah. Para pelajar diajari bermain Sandur lalu mementaskannya. Sandurpun kini mulai dilibatkan dalam lomba dan ditampilkan dalam festival kesenian. Unsur-unsur mistis dari Sandurpun otomatis dihilangkan, juga terdapat improvisasi di sana-sini dalam penyajiannya, misalnya saja ide cerita yang disesuikan kebutuhan.

Sandur saat dipentaskan
Dalam exhibition ini Sandur dipentaskan keliling dibeberapa kampung di Jogja untuk memperkenalkannya pada masyarakat luas
Ketika Sandur dimainkan oleh para pelajar SMA
Grup Invalid Sandur dari Teater Lorong Putih SMAN 1 Bojonegoro

Beruntunglah, dengan adanya usaha-usaha menggali dan memberdayakan Sandur, masyarakat Bojonegoro patut berbangga hati. Ditemukan satu lagi potensi Bojonegoro. Kesenian pun membangun dan melestarikan kearifan lokal, selain itu juga menambah keanekaragaman jenis potensi Bojonegoro.

Keragaman jenis potensi lokal memang sangatlah bergantung pada pola pikir dan moral masyarakat. Bagaimana mereka mengenali akan adanya sebuah potensi untuk di gali, bagaimana mereka memiliki kesadaran untuk mempertahankan potensi yang sudah ada, dan bagaimana mereka mencari cara untuk mengembangkan sebuah potensi sebagaimana mestinya. Jika pola pikir dan moral yang baik telah tertanam dalam diri masyarakat Bojonegoro, semestinya mereka akan berlomba-lomba untuk menggali, mempertahankan, dan mengembangkan potensi-potensi lokal dari kota tercintanya ini.

Untuk itu, masyarakat Bojonegoro secara luas harusnya dapat lebih mengenal Sandur. Kita patut mempertahankannya sebagai budaya warisan leluhur, dan kemudian mengembangkannya untuk dapat dilihat di kancah yang lebih luas lagi. Tinggal sedikit lagi kita mengasahnya, kita bisa yakin Sandur akan kembali “berkilau” seperti sedia kala, atau bahkan lebih “berkilau”. Kilaukan Sandur, Kilaukan Bojonegoro!

*Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog: Potensi Lokal Bojonegoro oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro bekerjasama dengan Komunitas Blogger Bojonegoro

Teduh

Aku ingin menghargai teduh.
Bahwa teduh selalu bertugas menunggu.
Ia hanya akan menunggu hujan memerintah kedatangannya.
Tak peduli betapa derasnya curah hujan yang membuncah,
teduh selalu datang melegakan.
Ia tak pernah ingkar janji.
Walau dalam tabahnya ia sisipkan makna menunggu lain.
Tentang kapan hujan mengajaknya muncul bersamaan.
Bersanding dalam satu waktu.


Dan Malaikatpun Mengasihaniku


Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Dalam ketidak sabaran waktu semakin menderu.
Sementara aku tetap mengharap kita bertemu.

Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Di balik pintu aku berdiri tanpa jemu.
Meski semut-semut kecil menapaki ujung kakiku,
aku tak akan mau berlalu.

Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Tak sadar betapa bodohnya aku,
dalam ribuan detik yang terhitung tak sedikitpun aku meragu,
malah berkhayal kau terjaga di sisiku.

Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Musim seperti punya remote pacu.
Bergulir cepat tanpa bisa kurayu.
Menyisakan rindu yang membelenggu.

Ah... cukup...
Ku tahu kau tak akan pernah mau tahu.
Kini tak perlu kau mengerti isi hatiku.
Terlalu lama aku menunggu,
dan malaikat yang tertegun di dekat perapian pun mengasihaniku.
Ingin aku menyuruhnya mengayunkan tongkat bintangnya yang lucu,
dan membuatku lupa bahwa aku pernah menunggumu
yang mungkin hanya hidup di suatu dongeng tanpa malaikat dan gadis lugu.


Total Tayangan Halaman