Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Rindu yang Asu

Pada meja belajar di waktu lampau
Kutitipkan memori tentang malam-malam penuh cemas dan haru
Saat harus kusalin soal-soal dan jawaban yang tak kutemukan di buku
Sedang semangatku harus tetap menderu sambil mendengarkan lagu-lagu
Pada gang gelap yang menyaksikanku tersedu
Kutitipkan rahasia tentang kisah cinta jarak jauh yang menjadikannya titik temu
Juga saksi tentang salam perpisahan yang kadang manis juga biru
Aku sedang memaki waktu
Dan kadang bertanya-tanya untuk apa aku sekarang disini berguru
Sedang jiwaku tersesat pada benda dan tempat itu
Juga fantasi-fantasi lucu dan mimpi-mimpi semu
Saat aku masih lugu dan percaya di masa depan semua tak harus berlalu
Kini apa yang bisa kulakukan saat menyaksikan kerut di wajah bapak dan ibu
Dan mendengar mereka sedang mengeluh linu
Sedang untuk memijatnya saja aku tak mampu
Lagi yang membuatku teramat pilu
Tentang seorang tuan yang merantau dan membuatku menunggu
Tapi tak pernah kembali beserta janjinya yang keliru
Bisakah aku tumbuh tanpa merasa letih dan lesu
Dan berjalan ke depan tanpa ragu
Karena rinduku yang asu
Kerap mengonggongi nostalgia dengan bau anyir yang terlalu
Ia terus berlari mengejarku yang terbelenggu
Dipikirnya aku hantu
Dengan luka di dada karena sembilu

Kabar Dari Makhluk Abrakadabra

Wahai
Sang Maha
Sang Esa
Perkenalkan makhluk yang kau cipta
Dengan mantra Abrakadabra
Bolehkah aku duduk satu meja denganmu?
Seketika pertanyaanku mengkocok-kocok perutmu
Kau seperti disuguhi komedi paling lucu abad ini
Tanpa menunggumu berhenti terpingkal-pingkal
Kusinggahkan pantat kotor
Pada singgasanaMu yang dilapisi beludru awan
Persetan dengan kelancanganku
Kau yang selalu minta disembah
Dalam sujud dan lipatan tangan
Aku lelah dengan ritual pemujaan
Maka kini aku datang menemuimu
Supaya doa-doa tak hanya jadi bahasa kalbu
Yang tak sampai di telingaMu
Baiklah langsung saja
Pertama-tama
Aku ingin memberi kabar
Bahwa makhluk-makhlukMu
Tak pernah paham kosa kata kemanusiaanNya
Apalagi KeTuhananMu
Beri tahu kami
Ajarilah kami
Amin

Teduh

Aku ingin menghargai teduh.
Bahwa teduh selalu bertugas menunggu.
Ia hanya akan menunggu hujan memerintah kedatangannya.
Tak peduli betapa derasnya curah hujan yang membuncah,
teduh selalu datang melegakan.
Ia tak pernah ingkar janji.
Walau dalam tabahnya ia sisipkan makna menunggu lain.
Tentang kapan hujan mengajaknya muncul bersamaan.
Bersanding dalam satu waktu.


Dan Malaikatpun Mengasihaniku


Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Dalam ketidak sabaran waktu semakin menderu.
Sementara aku tetap mengharap kita bertemu.

Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Di balik pintu aku berdiri tanpa jemu.
Meski semut-semut kecil menapaki ujung kakiku,
aku tak akan mau berlalu.

Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Tak sadar betapa bodohnya aku,
dalam ribuan detik yang terhitung tak sedikitpun aku meragu,
malah berkhayal kau terjaga di sisiku.

Tahukah kau, terlalu lama aku menunggu?
Musim seperti punya remote pacu.
Bergulir cepat tanpa bisa kurayu.
Menyisakan rindu yang membelenggu.

Ah... cukup...
Ku tahu kau tak akan pernah mau tahu.
Kini tak perlu kau mengerti isi hatiku.
Terlalu lama aku menunggu,
dan malaikat yang tertegun di dekat perapian pun mengasihaniku.
Ingin aku menyuruhnya mengayunkan tongkat bintangnya yang lucu,
dan membuatku lupa bahwa aku pernah menunggumu
yang mungkin hanya hidup di suatu dongeng tanpa malaikat dan gadis lugu.


Total Tayangan Halaman