Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

HelpNona Writing Contest: Mengapa Kamu tak Boleh Izinkan Dirimu Patah Hati


Patah hati tidak seperti berlatih naik sepeda, yang walaupun menimbulkan luka di lengan atau lututmu tapi ia memberimu candu, membuatmu mencuri waktu tiap pulang sekolah untuk kembali belajar. Ibumu akan menggelang-gelengkan kepala menyalahkan ayahmu yang terlalu dini membelikanmu sepeda. Tapi toh ayah tak akan menyesal, karena melihatmu jatuh dan bangun belajar sepeda dan melatihmu mengayuh adalah kebahagian kecil baginya. Tapi premis ini, sekali lagi tak sama dengan patah hati.

Source: modernhepburn.tumblr.com

Patah hati hanya membuang-membuang waktu. Lukanya tak bisa dibanggakan seperti luka belajar naik sepeda, dan tak ada yang ikut berbahagia dalam prosesi berpatah hatimu. Ayah dan ibu cemas melihatmu hanya mengurung diri di dalam kamar karena patah hati. Dan ketika saatnya kamu ingin pergi ke luar rumah kamu justru memilih terperangkap di club atau tempat hiburan lainnya, berharap di sana kamu bisa menggadaikan segala kenangan pahit itu. Kamu tahu kamu salah tempat, tapi kamu juga tahu, pegadaian mana yang mau menerima kenangan tentang mantan kekasih yang kamu sendiri sudah tidak memegang kartu garansinya. 

Celakanya teman-temanmu juga muak. Sesekali mereka memelukmu, memberikan sedikit saran dan motivasi, tapi kemudian jika kamu masih bersikukuh meneruskan patah hatimu, kamu akan benar-benar sendirian. Berapa banyak quotes move on di Instagram yang kamu like dan schreenshoot atau berapa tweet move on yang  kamu retweet?  Mereka yang mengikutimu di social media bahkan hanya akan merasa risih betapa timelinenya sudah seperti buku harianmu. Percayalah, patah hati membuatmu menjadi berbeda, norak, menyebalkan, dan tukang bolos. Kamu ingin bolos dari segala hal yang mengingatkanmu tentang dia. Celakanya, segalanya bisa mengingatkanmu tentang dia, karena dia masih bersarang di dalam kepalamu yang mulai kosong tak pernah lagi diisi dengan pengetahuan yang biasanya kamu dapat dari buku-buku favoritmu, dari kuliah dosen, atau dari ceramah pastur di Gereja. Kamu telah dianggap alpha oleh lingkungan sosialmu, dan kamu tak pernah menyangka kamu telah alpha dari dirimu sendiri.
Source: https://id.pinterest.com/pin/170855379592058050/

Waktu yang kamu buang-buang itu memang tidak sepenuhnya terbuang. Setidaknya ia telah berjasa membuatmu berjarak dengan masa lalu. Kamu mulai bersyukur, karena kenangan tentang dia mulai tak asik untuk diusik. Aroma tubuhnya, dialeknya ketika bercakap-cakap, dan letak tahi lalat di wajahnya kamu sudah mulai lupa. Saat kamu kegirangan mendapati dirimu telah move on, kamu baru menyadari bahwa bukan hanya masa lalu yang telah berlalu, tapi segalanya telah berlalu. Karena melupakan bukan final. Melupakan seseorang ternyata harus digadaikan dengan melupakan diri sendiri. Kamu menjadi tidak respect lagi dengan dirimu. Tubuhmu yang tak lagi indah dipandang, kantung mata yang menggantung akibat insomnia berat, mimpi-mimpi yang tertunda untuk dicapai, serta berbagai macam kesempatan yang kamu abaikan saat kamu patah hati yang tak pernah mampir lagi, itulah yang kini harus kamu hadapi. Patah hati seperti kucing kampung liar yang sudah kamu usir tapi kamu tidak menyadari ia melahirkan anak di kolong kasurmu dan kamu juga harus mengusir anak-anak kucing itu.

Source: rstyle.me

Jadi jika sekarang kamu sedang patah hati, jangan pernah izinkan itu terjadi. Jangan beri ia waktu! Ingat, rasanya tidak seperti belajar naik sepeda. Lebih baik jika kamu memang masih memiliki sepeda ambil sekarang di dalam garasi, kayuh ia menuju tempat favoritmu atau tempat yang benar-benar ingin kamu kunjungi, dan dalam perjalanan jangan pernah pikirkan orang yang telah membuatmu patah hati sedikitpun. Cukup hanya pikirkan tentang dirimu! Jadikan momen patah hati sebagai pertaruhan untukmu: untuk lebih self respect atau kalau tidak kamu akan benar-benar kehilangan dirimu sendiri. Seperti yang dilangsir dari www.helpnona.com: http://www.helpnona.com/cinta-diri.html , patah hati bisa kamu jadikan kesempatan untuk menjadi pribadi yang bebas dari tuntutan pacarmu dulu, kini kamu bisa lebih bebas untuk bereksplorasi . Dan jika kamu adalah golongan orang yang terlanjur menemukan “si anak kucing kampung” seperti perumpamaan di atas, tidak ada waktu lagi untuk menunda membereskannya. Kamu tidak perlu merawat dan mempertahankan hal-hal yang membebanimu akibat patah hati seakan itu adalah nasib yang tidak bisa diubah. Segera buang ia ke tempat yang tepat dan kembali menata hidup. Meskipun mencoba menemukan kembali dirimu yang dulu sebelum patah hati tidak mudah, setidaknya kamu tidak akan membuang waktu dengan percuma. Karena tidak ada yang percuma untuk menjadi pribadi yang bebas dari patah hati. Ayo Nona, mari #BertuturBerani untuk tidak mengizinkan dirimu patah hati!

Gerah Ripah Lohjinawi

Pantasnya negeri ini disebut negeri ‘Gerah’ Ripah Loh Jinawi daripada Gemah Ripah Loh Jinawi yang biasa digunakan untuk menggambarkan Ibu Pertiwi yang makmur, subur, dan memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Negeri ini selalu bisa membuat penduduknya kegerahan. Konon katanya karena Indonesia dilintasi garis Katulistiwa yang menjadikannya beriklim tropis. Lantas dengan begitu, akankah kita berterimakasih pada sang Katulistiwa yang melintang dengan nyamannya di sana atau justru menyumpah-serapahinya? Pasalnya si garis imajiner itu tak tahu bahwa posisi tidurnya kadang membawa kegerahan yang tak hanya membuat keringat mengucur deras tetapi juga airmata dan darah? Loh kok bisa?

Dulu waktu saya masih duduk di bangku SMA, guru Geografi saya selalu bilang kalau posisi indonesia itu menguntungkan. Karenanya kita punya banyak keragaman Hayati, keragaman ras, suku, dan budaya. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar merasa beruntung? Apakah kita merasa bangga ketika keberagaman ini justru cuma bikin gerah?

Mau tidak mau kita harus menerima keberagaman sebagai sebuah anugerah. Kemudian ketika para pendiri negeri ini mulai berunding tentang ideologi, mereka menyematkan rasa syukurnya tersebut lewat semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Semboyan yang dibawa oleh burung Garuda yang dinamai Pancasila dan sering kita temui bercokol gagah di atas kelas-kelas. Tidakkah Garuda Pancasila juga merasa kegerahan? Sayap-sayapnya kaku, tak bisa ia kepakkan. Sedangkan dengan kepala yang menghadap ke kanan membuatnya tak bisa melirik kebawah. Padahal di bawahnya, anak-anak sedang duduk di bangkunya masing-masing mendengarkan pelajaran Kewarganegaraan yang sedang membahas toleransi dengan menguap berkali-kali. Mereka ingin pulang saja untuk tidur siang, main Games, atau pergi ke Mall, hangout dengan gengnya sambil tak lupa update Path. Sungguh ironis.

Apa bentuk Garuda Pancasila perlu di update? Mungkin kepalanya harus di ganti dibawah, siap menerkam mereka yang tak menghormatinya. Mereka yang lupa cara meletakkan tangan di pelipis kepala untuk menunjukkan rasa hormat tapi lihai melemparkan batu ke pelipis temannya cuma gara-gara perbedaan tim sepak bola yang mereka jagokan. Mereka yang lebih cekatan menggunakan jari-jari tangannya untuk mengetik kalimat-kalimat bullyan pada kolom komentar Instagram, megomentari foto artis A yang pindah agama karena ikut suaminya. Atau membully pejabat B yang Tionghoa dan mencoba menduduki kursi pemerintahan tertinggi di Ibu Kota. Tidakkah jari-jari itu jauh lebih menemukan maknanya ketika saling merengkuh satu sama lain dalam rasa solidaritas?

Haruskah Garuda Pancasila berkapala 4 saja? Supaya bisa menghadap ke segala penjuru arah. Supaya ia juga bisa menoleh ke kanan dan kirinya. Supaya ia menyadari bahwa foto presiden dan wakil presiden di kanan kirinya sudah berganti untuk ke 7 kalinya. Yang setiap pergantiannya selalu membawa pergolakan. Pesta demokrasi yang terakhir membuat bangsa ini terbelah dua. Menodai suci dan beraninya merah-putih dengan black campaign. Gemuruh teriakan bersahutan ketika menjagokan sang nomor 1 atau nomor 2. Adu mulut hanya karena beda pendapat mengenai presiden mana yang lebih bisa diharapkan. Mereka lupa bahwa ada nomor 3 yang harus dijunjung tinggi, yaitu PERSATUAN INDONESIA.

Kawan, ini semua bukan salah Katulistiwa, Ibu Pertiwi, Tanah Air, atau Garuda Pancasila. Kegerahan ini sudah kelewatan. Haruskah kita sampai menelanjangi diri masing-masing karena saking gerahnya? Supaya malu. Supaya kita tahu walaupun warna kulit kita berbeda, agama kita berbeda, pilihan hidup kita berbeda tetapi kita tetap sama-sama seonggok daging yang disebut manusia. Namun apa hebatnya menjadi manusia jika ia tak menjadi manusia yang beradab?

Negeri ini sudah gerah karena iklimnya. Jadi jangan kita hembuskan angin permusuhan yang semakin membuat gerah. Kita butuh kesejukan dari senyum yang mengundang keramahan dan toleransi. Kita butuh kepala-kepala dingin yang tak mudah tersulut emosi hanya karena perbedaan pendapat. Jangan gantikan keringat dan darah perjuangan pendiri negeri ini yang merumuskan Bhinneka Tunggal Ika dengan keringat dan darah karena aksi anarkis. Jangan kau injak-injak orang-orang disekitarmu hanya karena mereka berbeda denganmu. Karena setidaknya kita semua berpijak pada tanah yang sama. Tanah yang diijinkan untuk diinjak oleh perbedaan.

Sandur, Intan Yang Terpendam

Potensi lokal bak intan. Harus digali untuk mendapatkannya, harus diasah agar berkilau, menampilkan keindahannya. Betapa beruntung kita, karena seluruh pelosok negeri ini dianugrahi banyak potensi yang menunggu untuk ditemukan dan dikilaukan. Begitupun dengan Bojonegoro, kota di mana saya sekarang tinggal untuk menempuh pendidikan. Saya yakin Bojonegoro tak luput dari keberuntungan yang dimiliki negeri ini.

Jika kita menyebut nama kota kecil ini di kota-kota besar, sering kita mendapati selorohan seperti “Bojonegoro itu letaknya dimana sih? Emangnya di peta ada ya?” Miris mendengarnya. Betapa Bojonegoro menjadi kota yang belum dikenal banyak orang. Bojonegoro memang bukan kota metropolitan dengan gemerlap hiburan, Bojonegoro hanyalah kota yang belum menunjukkan “kilaunya”.

Sebenarnya banyak sekali potensi yang bisa kita temukan dari Bojonegoro. Misalnya, dari segi ekonomi. Bojonegoro memiliki tambang minyak yang sangat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian daerah. Dari segi pariwisata, Bojonegoro memiliki beberapa obyek wisata seperti Bendungan Gerak, Kayangan Api, juga Waduk Pacal, dan lain-lainnya, semua menjadikan Bojonegoro kota yang diminati para wisatawan domestik maupun luar untuk berkunjung. Dari segi budaya? Jangan salah, Bojonegoro punya segudang tradisi, kisah sejarah, maupun kesenian!

Jika kita pernah menengok ke belakang ada sebuah potensi di bidang kesenian yang luput dari pandangan kita. Kesenian apakah itu? Sandur. Mungkin kita asing mendengarnya. Memang Sandur pernah “berkilau” di eranya, namun perlahan meredup, bahkan nyaris musnah. Sandur merupakan perpaduan antara tari dan teater tradisional. Pertunjukan teater dalam Sandur dimainkan oleh empat tokoh pakem yang harus ada, yaitu Cawik, Pethak, Balong, dan Tangsil. Mereka akan memainkan cerita yang berkaitan dengan agraria seperti bercocok tanam, mencari kerja, atau menikah. Biasanya pertunjukan ini diawali dengan tarian Jaranan dan di akhiri dengan atraksi  Kalongking.

Sandur berbeda dengan format pertunjukan lainnya. Inilah yang membuat sandur menjadi unik. Sandur dimainkan di arena yang dibentuk seperti ring tinju dengan rumbai janur kuning atau biasa disebut Blabar Janur Kuning. Para tokoh-tokoh yang bermain teater ditempatkan pada setiap sudut. Sedangkan di bagian tengah blabar diisi Panjak Hore. Mereka adalah sekumpulan penabuh gamelan sederhana dan penyanyi tembang-tembang yang mengiringi pertunjukan Sandur. Logat yang digunakan dalam berdialog pun unik; tidak seperti teater pada umumnya. Logat dalam Sandur memiliki cengkok-cengkok tertentu yang semakin menambah keunikan dan kekhasannya.

Keunikan Sandur tidak hanya itu saja. Pada jaman dulu, Sandur memang sering dipentaskan dalam pesta rakyat atau hajatan. Banyak sekali penikmat Sandur saat itu, mereka akan sangat excited dan berbondong-bondong menontonnnya. Kebanyakan dari mereka menunggu-nunggu penampilan Jaranan dan Kalongking. Sisi magis yang Jaranan dan Kalongking suguhkan dalam  setiap atraksinya konon menjadi daya tarik tersendiri. Untuk menciptakan atraksi-atraksi yang membuat ngeri itu ternyata prosesnya tidak sederhana. Para penari harus melakukan ritual Setren untuk mendapat daya untuk memperlancar atraksinya. Di sinilah unsur mistis yang berasal dari kepercayaan nenek-moyang; peninggalan animisme dan dinamisme. Persiapan Sandur harus menyiapkan sesajen bagi para roh leluhur, selain itu mereka juga harus menginapkan alat-alat dan kostum yang akan dibuatnya pentas selama semalaman di kuburan.

Sayang, semua keunikan dan kekhasan kesenian tradisional itu, tidak bertahan lama dinikmati. Pada masa pemberontakan G 30 S PKI, Sandur dinyatakan sebagai salah satu organ LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat) salah satu ormas PKI. Kebijakan politik pada masa itu memberangus segala sesuatu yang berbau PKI, dan Sandurpun menderita nasib yang sama. Para pegiat Sandur di tangkap dan Sandur dilarang dipentaskan sejak itu. Sandur mati suri sekitar era 65-90an. Sandur hanya tinggal nama bagi para pelakunya. Baru setelah di tahun 90an ada pendokumentasian kesenian daerah, Sandur mulai berkutik kembali.

Para penggiat kesenian daerah mulai sedikit demi sedikit menghapus pandangan buruk tentang Sandur, mereka berniat untuk mengembalikan citra baik Sandur di mata masyarakat. Sandur mulai dipentaskan kembali dalam kesempatan-kesempatan tertentu. Meskipun itu artinya fungsi Sandur menjadi bergeser, tidak lagi sebagai pertunjukan dalam pesta rakyat atau hajatan. Sandur bahkan mulai diperkenalkan pada para pelajar dengan masuknya Sandur dalam teater-teater sekolah. Para pelajar diajari bermain Sandur lalu mementaskannya. Sandurpun kini mulai dilibatkan dalam lomba dan ditampilkan dalam festival kesenian. Unsur-unsur mistis dari Sandurpun otomatis dihilangkan, juga terdapat improvisasi di sana-sini dalam penyajiannya, misalnya saja ide cerita yang disesuikan kebutuhan.

Sandur saat dipentaskan
Dalam exhibition ini Sandur dipentaskan keliling dibeberapa kampung di Jogja untuk memperkenalkannya pada masyarakat luas
Ketika Sandur dimainkan oleh para pelajar SMA
Grup Invalid Sandur dari Teater Lorong Putih SMAN 1 Bojonegoro

Beruntunglah, dengan adanya usaha-usaha menggali dan memberdayakan Sandur, masyarakat Bojonegoro patut berbangga hati. Ditemukan satu lagi potensi Bojonegoro. Kesenian pun membangun dan melestarikan kearifan lokal, selain itu juga menambah keanekaragaman jenis potensi Bojonegoro.

Keragaman jenis potensi lokal memang sangatlah bergantung pada pola pikir dan moral masyarakat. Bagaimana mereka mengenali akan adanya sebuah potensi untuk di gali, bagaimana mereka memiliki kesadaran untuk mempertahankan potensi yang sudah ada, dan bagaimana mereka mencari cara untuk mengembangkan sebuah potensi sebagaimana mestinya. Jika pola pikir dan moral yang baik telah tertanam dalam diri masyarakat Bojonegoro, semestinya mereka akan berlomba-lomba untuk menggali, mempertahankan, dan mengembangkan potensi-potensi lokal dari kota tercintanya ini.

Untuk itu, masyarakat Bojonegoro secara luas harusnya dapat lebih mengenal Sandur. Kita patut mempertahankannya sebagai budaya warisan leluhur, dan kemudian mengembangkannya untuk dapat dilihat di kancah yang lebih luas lagi. Tinggal sedikit lagi kita mengasahnya, kita bisa yakin Sandur akan kembali “berkilau” seperti sedia kala, atau bahkan lebih “berkilau”. Kilaukan Sandur, Kilaukan Bojonegoro!

*Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Blog: Potensi Lokal Bojonegoro oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bojonegoro bekerjasama dengan Komunitas Blogger Bojonegoro

Total Tayangan Halaman